PMII KEBAL, JAKARTA — Biro Advokasi dan Hubungan Antar Lembaga PMII Komisariat Kebayoran Lama mengadakan kegiatan bedah buku berjudul Reset Indonesia sekaligus menghadirkan penulis buku, Yusuf Priambodo sebagai pemateri pada Selasa (10/2/2026). Kegiatan itu berlangsung di Kedai Taruma, Cirendeu, Tangerang Selatan. Ini kali pertama bedah buku Reset Indonesia diadakan di wilayah tersebut.
Salah satu penulis buku Reset Indonesia, Yusuf Priambodo menjelaskan, buku tersebut merupakan hasil temuan dari rangkaian ekspedisi selama kurang lebih 15 tahun yang dimulai sejak 2009. Ekspedisi tersebut diawali oleh jurnalis senior Farid Gaban, bersama Ahmad Yunus dalam Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Dilanjutkan pada 2015, Dandhy Laksono bersama Suparta Arz (Ucok) dalam Ekspedisi Indonesia Biru. Barulah di tahun 2022, mereka bergabung dalam satu ekspedisi yang melibatkan Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu di Ekspedisi Indonesia Baru.
“Buku ini sebenarnya hasil temuan ekspedisi selama lima belas tahun. Dari tiga kali ekspedisi itu, kami justru menemukan bahwa pembangunan Indonesia tidak berjalan ke depan, bahkan banyak temuan yang mengindikasikan pembangunan kita salah arah,” ujar Yusuf saat diwawancarai di Kedai Taruma, Tangerang Selatan, Selasa (10/2/2026).
Ia menegaskan, buku tersebut disusun sebagai barometer untuk melihat kembali seperti apa seharusnya pembangunan yang lebih baik. Menurutnya, pembangunan tidak dapat dilepaskan dari persoalan ketimpangan sosial, ekonomi, dan aspek ekologis.
“Kami ingin mengukur lagi, sebenarnya pembangunan yang lebih baik itu seperti apa. Kita bicara ketimpangan sosial, kita bicara ekonomi yang seharusnya lebih mengindahkan sisi lingkungan atau ekologis,” katanya.
Yusuf juga menyinggung korelasi antara manusia, alam, dan nilai ketuhanan yang menurutnya tidak dapat dipisahkan. Ia menilai bahwa pembangunan seharusnya tidak menjauhkan manusia dari alam, melainkan memperkuat hubungan keduanya sebagai satu kesatuan. Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan bahwa selama perjalanan ekspedisi, ia dan tim justru menemukan kesadaran ekologis yang kuat pada masyarakat adat dan warga lokal di wilayah perdesaan. Sebaliknya, gaya hidup urban dinilai cenderung abai terhadap lingkungan.
“Selama empat ratus lima puluh empat hari perjalanan, kami justru menemukan bahwa warga lokal, masyarakat adat, dan orang-orang di perdesaan lebih menghormati alam. Sementara masyarakat urban dengan gaya hidup modern, justru lebih banyak merusak alam dan tak mengindahkan atau menjaga lingkungan,” tuturnya.
Menutup pernyataannya dalam diskusi, Yusuf membagi motivasi kepada mahasiswa untuk memulai reset dan gerakan perubahan dari lingkup lokal sesuai dengan keresahan yang sedang mereka rasakan. “Kalau teman-teman punya keresahan di lingkup lokal, justru itu bagus. Dari situ nanti bisa ditarik ke skala yang lebih besar, belajar mengaitkan antara lingkungan, politik, ekonomi, sampai hulu dan hilir persoalan. Rasa ingin tahu itulah yang akhirnya mendorong kita untuk bergerak dan memahami lebih dalam tentang Indonesia,” katanya.
Rep: Arfan Maulana Hafizh/ Red: Yusuf Priambodo


0 Komentar